Para murid, guru, dan tetua sekte Api Langit yang semula tertekan dan putus asa, tiba-tiba merasa harapan kembali menyala saat melihat sosok asing itu muncul. Mereka terpana melihat bagaimana sosok itu dengan mudah mengalahkan lima grandmaster sekaligus, padahal kelima orang itu adalah musuh yang sangat ditakuti.

"Kita selamat," bisik salah satu murid, suaranya gemetar penuh kelegaan.

"Tapi lihat pakaiannya... Kenapa sangat aneh seperti itu? Apakah dia di pihak kita?" tanya murid lainnya, matanya tak lepas dari sosok itu.

"Tenang saja, masalah ini pasti bisa orang tersebut menyelesaikannya dengan mudah." kata Li Wei dengan penuh keyakinan, meski tangannya masih gemetar.

"Kamu mengenalnya Li Wei?" tanya murid lain yang mendengar kata-kata Li Wei, namun Li Wei tidak menjawabnya dan memandang ke depan, kesosok yang baru datang menolong mereka.

Guru Yuan yang berada di dekat Ling Mei merasa kaget karena tiba-tiba saja Ling Mei menghilang dan muncul di tempat Li Wei. "Kapan orang itu melepaskannya?Aku tidak merasakan sedikitpun pergerakannya. Apakah dia yang dimaksud Li Wei, alasan dari kertas formasi tersebut?" batin guru Yuan dengan penasaran sekaligus takjub.

Tetua Huang menatap tajam sosok yang datang. Dari postur tubuhnya, tetua Huang memperkirakan bahwa sosok tersebut seorang pria, namun yang aneh dia merasakan kekuatan pria tersebut hanyalah forging qi tingkat dua."Pakaiannya... Aku yakin, pakaiannya adalah sumber kekuatannya. Dengan pakaian itu, membuatnya menjadi sangat kuat. Jika tidak, bagaimana mungkin mengalahkan ranah Grandmaster semudah itu." Batin tetua Huang setelah memperhatikan dengan seksama.

Tetua Huang berhati-hati karena jika kelima grandmaster lainnya dapat dengan mudah dikalahkan, menandakan dia bukanlah lawan yang bisa dia kalahkan begitu saja.

Sementara Shen Mo, yang sudah mencapai tingkat Immortal akhir, tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya dihadang oleh seseorang yang aura kekuatannya begitu lemah. Wajahnya memerah, dan matanya menyala dengan amarah yang membara. "Kau pikir kau bisa menantangku, manusia lemah?" teriaknya, suaranya menggema di seluruh aula yang hancur.

Dengan gerakan cepat, Shen Mo melesat ke depan, mengeluarkan jurus andalannya,

"Eternal Inferno Descent".

Tangannya mengeluarkan semburan api yang membara, menghanguskan udara di sekitarnya. Api itu membentuk naga raksasa yang mengaum, siap melahap Lynx.

Para murid terutama Li Wei yang sedang menyaksikan pertempuran tanpa disadari menahan napas melihat dahsyatnya jurus yang dikeluarkan.

"Bagaimana ini, mungkinkah dia bisa bertahan?" salah satu murid bertanya dengan khawatir.

Namun, Lynx hanya berdiri tenang, tubuhnya bergerak dengan gesit menghindari setiap serangan. Dia tidak membalas, hanya bertahan, seolah sedang menunggu sesuatu.

Shen Mo semakin geram. Dia mengeluarkan jurus berikutnya,

Pedangnya mengeluarkan cahaya menyilaukan, dan dengan satu tebasan, energi dahsyat melesat ke arah Lynx. Tanah di sekitarnya terbelah, dan bangunan yang masih berdiri hancur berkeping-keping. Namun, Lynx hanya mengangkat tangannya, dan energi itu terpental kembali, menghancurkan dinding di belakang Shen Mo.

"Kau hanya bisa menghindar?" ejek Shen Mo, napasnya mulai tersengal. Dia mengerahkan semua kekuatannya, mengeluarkan jurus pamungkasnya, Aura kekuatannya memancar dengan intens, dan seluruh ruangan terasa seperti terhisap ke dalam pusaran energi. Shen Mo melesat ke depan, menyerang Lynx dengan kecepatan yang hampir tak terlihat.

Tapi Lynx tetap tenang. Dia hanya menunggu, seolah sedang mengukur kekuatan Shen Mo. Setelah beberapa kali serangan, Lynx akhirnya bergerak. Dengan satu pukulan sederhana, dia menghantam Shen Mo tepat di dada. Pukulan itu terlihat biasa, tapi kekuatannya luar biasa.

Seolah dihantam palu raksasa, Shen Mo terlempar ke belakang, tubuhnya menghantam dinding dan jatuh ke lantai. Dia mencoba bangkit, tapi darah mengucur dari mulutnya, dan tubuhnya gemetar. Dia tidak bisa bergerak, terluka parah.

Para murid dan guru yang menyaksikan pertarungan itu tertegun. Mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Seseorang yang hanya memiliki aura Forging Qi tingkat dua, dengan mudah mengalahkan seorang Immortal tingkat akhir. Beberapa murid bersorak gembira, sementara yang lain masih terpana, tidak bisa berkata-kata.

Namun, di tengah kegembiraan itu, tetua Huang tiba-tiba bergerak. Dia menyandera seorang guru yang ada di dekatnya, pedangnya menempel di leher sang guru. "Jangan bergerak! Jika kamu melawan, aku akan membunuhnya!" teriaknya, suaranya gemetar ketakutan. Matanya liar, melirik ke arah Lynx, seolah takut sosok itu akan menyerangnya.

Lynx menatap tetua itu dengan dingin. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dari matanya keluar sinar laser tak kasat mata yang melesat dengan kecepatan luar biasa. Sinar itu menembus kepala tetua itu, dan dalam sekejap, tubuhnya roboh ke lantai.

Para tetua dan guru merasa tidak percaya, melihat nasib salah satu tetua yang mereka sangat hormati sebelumnya, justru tewas dengan cara yang tidak mereka pahami, bahkan tetua Xie yang melihat kematian tetua Huang merasa bersedih. Meski dia sudah berkhianat, namun mereka tetaplah memiliki kenangan selama puluhan tahun bersama-sama membangun sekte Api Langit hingga seperti sekarang.

Guru yang disanderanya terkejut, dia melihat dua lubang seperti tertusuk besi panas membekas terbakar di kepala tetua Huang tapi dengan segera dia berlari ke arah para murid yang lain.

Para murid dan guru yang menyaksikan kejadian itu semakin terpana. Mereka tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengeluarkan serangan seperti itu tanpa menggunakan Qi? Siapa sebenarnya sosok di depan mereka?

Lynx tidak memberikan penjelasan. Dia hanya menatap Shen Mo yang masih tergeletak di lantai.

"Apakah kamu yang menyebabkan Ling Mei terluka?" kata Lynx dengan marah. Karena dia tidak mengetahui permasalahan yang terjadi, selain tetua Huang yang dibunuhnya karena berani mengancam, semua grandmaster lainnya hanya dibuat tidak sadarkan diri dengan kondisi luka parah, begitu juga pria tua di depannya.

"Siapa kamu? Kenapa mencampuri urusanku?" kata Shen Mo dengan geram sambil menahan rasa sakit di dadanya.

"Siapa aku, itu tidak perlu kamu pikirkan, tetapi jika kamu yang menyakiti Ling Mei, maka kamu harus mati." kata Lynx dengan tegas.

Li Wei, yang melihat Lynx masih berdiri di depan Shen Mo, tiba-tiba berteriak dengan suara penuh amarah. "Bunuh saja pria tua itu! Dia yang meracuni Ling Mei!"

Lynx menatap tajam kearah Shen Mo, matanya menyala dengan kemarahan. Tubuhnya bergetar dengan niat membunuh yang semakin besar. Namun, sebelum dia sempat bergerak, suara jeritan kesakitan memecah kesunyian.

"Ahh!"

Ling Mei, yang sebelumnya terlihat lemah, tiba-tiba menjerit kesakitan. Tubuhnya menggigil hebat, darah hitam mengalir dari sudut bibirnya. Racun di tubuhnya kembali kambuh, dan nyawanya terancam.

Lynx segera berbalik, melupakan Shen Mo seketika. Dia melesat ke samping Ling Mei, tangannya menempel di dahi wanita itu. "Ling Mei, tahan!" bisiknya, suaranya gemetar. Matanya memeriksa kondisi Ling Mei dengan cermat, dan wajahnya berubah pucat saat menyadari betapa seriusnya keadaan itu.

Shen Mo, yang melihat Lynx teralihkan, segera memanfaatkan kesempatan. Tangannya meraih sesuatu dari saku jubahnya—sebuah kembang api kecil berwarna merah menyala. Dengan gerakan cepat, dia melemparkannya ke langit.

Boom!

Kembang api itu meledak, membentuk simbol daun merah di udara. Itu adalah sinyal bagi para anggota klannya yang tersebar di sekitar Sekte Api Langit.

"Kalian, ikuti aku!" teriak Shen Mo kepada beberapa pengikutnya yang masih sadar. Dia melompat ke arah ketua sekte yang terluka parah, lalu menarik tubuh pria itu dengan kasar beserta tetua Xie yang ada di dekatnya.

Tetua Xie, yang masih terpana dengan kematian Tetua Huang, tidak sempat melawan. Dengan mudah, Shen Mo membawa mereka berdua pergi menjauh untuk menghindari kemarahan sosok pria yang merusak rencana mereka.

Lynx tidak peduli dengan kaburnya Shen Mo. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada Ling Mei, yang napasnya semakin lemah. Tangannya mengepal, matanya berbinar dengan kepanikan yang jarang terlihat.

"Li Wei!" panggil Lynx, suaranya tegas. "Di mana kamar terdekat yang bisa digunakan untuk menyelamatkannya?"

Li Wei, yang masih gemetar, segera menjawab. "Aku tahu tempatnya! Ikuti aku!" Dia berlari ke arah koridor samping, menunjuk ke sebuah ruangan kecil di ujung. "Kamar ini bisa digunakan. Aku akan memastikan tidak ada orang lain yang mendekat. Xiao Ling, kamu harus menyelamatkan Kak Ling Mei."

Lynx mengangguk, lalu mengangkat tubuh Ling Mei dengan lembut. Dia melesat ke arah kamar yang ditunjukkan Li Wei, meninggalkan para murid dan guru yang masih terpana di belakang.

